Business people hold a tablet, plan and strategy and display virtual holograms of statistics, financial graphs, securities and charts on a dark background. The concept of business growth
Analisis Fundamental: Cara Mencari Saham Undervalued dan Sehat
Mengenal Saham Undervalued: Peluang Emas yang Sering Terlewatkan
Bayangkan Anda memasuki toko elektronik dan menemukan laptop gaming dengan spesifikasi tinggi dipajang dengan harga jauh di bawah nilai normalnya. Seller tidak tahu spesifikasinya, atau ada cacat kecil yang mudah diperbaiki. Inilah analogi sederhana untuk memahami saham undervalued saham berkualitas yang diperdagangkan di bawah nilai sebenarnya karena pasar belum mengenali nilai tersembunyi, atau ada press negatif sementara.
Data terbaru menunjukkan bahwa 14 saham blue chip Indonesia masih memiliki valuasi murah dengan PBV di bawah 1 dan dividend yield di atas 3% pada 2025. Saham-saham ini adalah peluang emas bagi investor value yang tahu cara membaca fundamental dengan benar. Penelitian dari tim analis menunjukkan bahwa saham dengan kombinasi valuasi murah, fundamental sehat, dan dividen stabil memberikan return long-term 15-25% per tahun jauh lebih baik daripada deposito bank atau obligasi.
Mengapa Mencari Saham Undervalued Penting?
Mencari saham undervalued adalah filosofi fundamental dari value investing. Bukan tentang “cari cepat kaya,” melainkan tentang membeli aset berkualitas dengan harga diskon, lalu menunggu pasar mengapresiasi nilainya. Investor legendaris seperti Warren Buffett telah membuktikan bahwa strategi ini menghasilkan wealth yang sustainable dan tidak bergantung pada timing pasar yang sempurna.
Keuntungan mencari saham undervalued:
-
Entry price lebih rendah, margin safety lebih besar
-
Potensi capital gain tinggi saat revaluation terjadi
-
Dividen yield lebih tinggi (saat harga rendah)
-
Risiko lebih terkontrol dengan fundamental clear
Yuk simak penjelasan keyword-keyword analisis fundamental yang paling penting!
Low PER: Indikator Utama Saham Murah
Apa itu PER dan Mengapa Penting?
PER (Price-to-Earnings Ratio) = Harga saham ÷ Laba per saham (EPS)
PER menunjukkan berapa kali harga saham dibanding laba yang dihasilkan perusahaan dalam satu tahun. Semakin rendah PER, semakin “murah” valuasi saham tersebut.
Contoh praktis: BBRI harga Rp3.200, EPS Rp212. PER = 3.200 ÷ 212 = 15x. Artinya, butuh 15 tahun untuk mendapat balik modal dari laba BBRI.
Kapan PER Rendah Berarti Saham Undervalued?
PER rendah relatif:
-
Bandingkan dengan rata-rata sektor. Bank rata-rata PER 12-14x. BBRI PER 15x = sedikit premium, tapi justified karena kualitas aset lebih baik
-
Bandingkan dengan historical PER. BBRI rata-rata 3 tahun PER 16x.
Warning: PER rendah tidak selalu berarti undervalued. Bisa juga berarti:
-
Perusahaan sedang mengalami masalah fundamental
-
Pasar expecting pertumbuhan laba menurun
-
Sektor industri sedang tidak populer
Rule of thumb: PER undervalued = di bawah rata-rata sektor ATAU di bawah PER historical 3-5 tahun rata-rata.
Kombinasi PER dengan PEG Ratio untuk Analisis Lebih Akurat
PEG Ratio = PER ÷ Expected growth rate laba
Jika saham PER 15x dengan expected laba growth 25% per tahun, PEG = 15 ÷ 25 = 0,6. PEG di bawah 1 = undervalued.
Contoh: ASII (Astra International ) saat ini PER 9x (rendah) dengan expected pertumbuhan laba 12% per tahun. PEG = 9 ÷ 12 = 0,75. Ini adalah signal bahwa ASII undervalued harga tidak mencerminkan growth yang bisa diterima.
PBV di Bawah 1: Saham Lebih Murah dari Asetnya
Memahami PBV dan Implikasinya
PBV (Price-to-Book Value) = Harga saham ÷ Nilai buku per saham
Nilai buku = Total aset – Total utang. PBV menunjukkan berapa kali harga saham dibanding net asset value perusahaan.
Interpretasi:
-
PBV < 1: Saham harga lebih rendah dari nilai asetnya. Theoretically undervalued
-
PBV = 1: Harga = nilai aset (fair valued)
-
PBV > 1: Saham lebih mahal dari nilai aset (investors paying premium untuk growth/brand)
Contoh Real dari Saham Indonesia dengan PBV Rendah
Berdasarkan data terbaru November 2025, ADRO (Adaro Energy Indonesia) memiliki PBV 0,7x dengan dividend yield 64,7% phenomenal return saat harga sangat rendah. Namun, caution: dividen jumbo ini bukan sustainable ini adalah hasil liquidation aset atau restructuring bisnis menuju renewable energy.
Saham yang lebih sustainable adalah:
-
ASII: PBV 1,0x, dividend yield 9,9%—valuasi fair, dividen sustainable
-
BBNI: PBV terendah di antara bank besar, fundamental transformasi sedang berlangsung—classic undervalued setup
-
PGAS: PBV 0,9x, dividend yield 9,3%—undervalued utility stock
Warning: PBV Rendah Tidak Selalu Berarti Peluang
Saham dengan PBV rendah bisa juga “value trap” terlihat murah tetapi fundamental buruk atau declining. Check juga:
-
Pertumbuhan laba: Naik atau turun 3 tahun terakhir?
-
ROE (Return on Equity): Tinggi (>12%) atau rendah (<8%)?
-
Debt ratio: Utang terkontrol atau meliputi?
Jika PBV rendah tapi ROE rendah + utang tinggi = jebakan, jangan beli hanya karena terlihat murah.
Simak fitur-fitur analisis fundamental lainnya yang wajib Anda perhatikan!
High Dividend Yield: Passive Income dari Saham Murah
Mengapa Dividen Penting dalam Value Investing?
Saham undervalued dengan dividen tinggi adalah kombinasi terbaik untuk long-term wealth building. Mengapa?
-
Dividen = cash return yang real—tidak tergantung pada price appreciation
-
High yield saat harga rendah—buy low, get high income
-
Signal fundamental sehat—perusahaan confident membagi dividen = punya cash flow positif
-
Protection saat harga stagnan—dividen adalah buffer
Contoh: Anda beli BBRI saat PER 12x, PBV 1,8x, yield 7%. Dalam 5 tahun, Anda terima dividen 35% dari modal. Jika harga tetap flat, Anda sudah break even. Jika harga naik (revaluation), itu bonus.
Saham Indonesia dengan Dividend Yield Tinggi yang Sustainable
Data terbaru menunjukkan saham dengan dividend yield stabil dan sustainable:
| Saham | Yield | PBV | ROE | Fundamental |
|---|---|---|---|---|
| BBRI | 7,3% | 2,0x | 18% | Bank sehat, dividen konsisten |
| ASII | 9,9% | 1,0x | 15% | Konglomerat, dividen stabil |
| PGAS | 9,3% | 0,9x | 14% | Utility, dividen reliable |
| AKRA | 9,2% | 2,5x | 16% | Logistik, growth+dividen |
| UNTR | 7,9% | 1,2x | 17% | Heavy equipment, cyclical |
Rule dividend investing: Prioritaskan dividend yield >4% dengan track record pembayaran >3 tahun konsisten. Avoid yield >12% (bisa signal distress atau non-sustainable).
ROE Tinggi: Profitabilitas Efisien Perusahaan
Mengapa ROE Penting untuk Fundamental Analysis?
ROE (Return on Equity) = Laba bersih ÷ Total ekuitas × 100%
ROE menunjukkan seberapa efisien perusahaan menggunakan modal pemegang saham untuk generate profit. Semakin tinggi ROE, semakin bagus.
Benchmark:
-
ROE > 15%: Excellent—manajemen berkualitas tinggi
-
ROE 10-15%: Good—acceptable untuk saham defensif
-
ROE < 10%: Concern—manajemen kurang efisien atau bisnis menurun
Kombinasi PBV Rendah + ROE Tinggi = Jackpot
Saham dengan PBV rendah tetapi ROE tinggi adalah “hidden gem” market mungkin belum appreciate bisnis bagus ini.
Contoh: BBNI saat ini memiliki PBV terendah di antara bank besar (1,2x), tapi ROE sedang meningkat (14-15%) melalui asset quality improvement. Ini adalah setup ideal untuk value investor harga murah tapi fundamental improving.
DER Rendah: Utang Terkontrol, Bisnis Aman
Mengapa Debt-to-Equity Penting?
DER (Debt-to-Equity Ratio) = Total utang ÷ Total ekuitas
Benchmark safe:
-
DER < 0,5x: Very safe—utang minimal
-
DER 0,5-1,0x: Moderate—normal untuk healthy company
-
DER 1,0-1,5x: Caution—utang mulai bermakna
-
DER > 1,5x: Risky—utang berat, financial risk tinggi
Contoh Screening Saham dengan DER Sehat
Dari 14 saham murah yang dianalisa, yang memiliki DER sehat (<1):
-
BBRI: DER 0,8x (safe, tapi natural untuk bank)
-
ASII: DER 0,7x (very safe)
-
PGAS: DER 0,6x (very safe)
-
AKRA: DER 0,9x (safe)
Hindari:
-
TBIG: DER 1,8x (utang tinggi, risky)
-
UNVR: DER 0,3x (very low debt—bagus, tapi competitive advantage dari financial strength?)
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Q: Bagaimana cara screening saham undervalued secara sistematis?
J: Gunakan screening tools di platform broker atau Investing.com dengan filter: PER <12x, PBV <1,5x, ROE >12%, DER <1, dividend yield >4%, consistent earnings growth. Dari hasil screening, pilih 5-10 untuk analisis manual lebih dalam.
Q: Apakah saham dengan PBV <1 pasti undervalued?
J: Tidak. PBV <1 hanya kondisi necessary, tidak sufficient. Harus dikombinasi dengan ROE tinggi, DER rendah, dan fundamental yang tidak deteriorating. Banyak PBV <1 adalah value trap.
Q: Berapa lama harus hold saham undervalued sebelum price appreciation?
J: Tidak ada jadwal fixed. Bisa 6 bulan, bisa 2-3 tahun. Inilah mengapa dividen penting Anda dapat return sambil menunggu market revaluation.
Q: Bagaimana membedakan saham undervalued vs saham declining?
J: Check trend earnings 3-5 tahun. Undervalued = earnings naik tapi harga lagging. Declining = earnings turun terus, harga rendah adalah justified. Undervalued recovery fast. Declining bisa jadi value trap.
Q: Apakah analisis fundamental cukup atau perlu teknikal juga?
J: Fundamental untuk identify saham berkualitas. Teknikal untuk optimal entry timing. Kombinasi keduanya = best result. Entry saham undervalued saat technical pullback + breakout dari consolidation = risk-reward ratio optimal.
Kesimpulan: Systematic Approach untuk Mencari Harta Karun Pasar
Mencari saham undervalued bukanlah keberuntungan itu adalah result dari systematic analysis. Gunakan PER, PBV, ROE, DER, dan dividend yield sebagai filter awal. Kemudian drill down ke laporan keuangan, trend bisnis, dan competitive moat perusahaan.
Saham undervalued dengan fundamental sehat ada setiap saat di pasar. Tugas investor adalah develop skill untuk menemukannya sebelum pasar lain menyadari nilainya.
Sekarang, pertanyaan untuk Anda: Sudah pernah menemukan saham undervalued tetapi ragu untuk membeli? Atau malah tercuri oleh value trap? Bagikan pengalaman Anda di komentar cerita real dari reader sering lebih teaching daripada teori. Mari kita bangun komunitas value investor yang lebih cerdas dalam mengidentifikasi peluang di pasar!