Faktor Utama yang Mempengaruhi Pergerakan Harga Saham di Pasar Modal
Bayangkan harga saham seperti permainan tug-of-war antara banyak pemain yang tidak pernah berhenti menarik-menarik. Di satu sisi, ada pemain yang melihat laporan keuangan dan prospek bisnis perusahaan. Di sisi lain, ada pemain yang terus-menerus mendengarkan berita, merespons emosi, dan mengikuti tren pasar. Ketika berita besar muncul seperti pergantian menteri keuangan pada September 2025 yang membuat IHSG turun lebih dari 1 persen seolah-olah semua pemain sekaligus bergerak ke satu arah. Inilah realitas pasar saham: pergerakan harganya dipengaruhi oleh puluhan faktor yang saling terkait, dari angka-angka finansial yang objektif hingga sentimen psikologis yang subjektif.
Memahami faktor-faktor ini adalah kunci untuk menjadi investor yang cerdas. Bukan sekadar bertanya “mengapa harga naik atau turun,” tetapi “faktor apa yang menggeraknya, dan apakah itu fundamental atau sekedar sentimen jangka pendek?”
Faktor Internal: Kesehatan Perusahaan Sendiri
Faktor internal adalah segala sesuatu yang berasal dari dalam perusahaan itu sendiri. Ini adalah “tubuh” saham bagaimana kesehatan biologisnya. Pertimbangkan saja ini: jika perusahaan menghasilkan laba yang semakin besar setiap tahunnya, manajemen yang jujur, dan utang yang terkontrol, akan ada alasan kuat bagi investor untuk membeli sahamnya.
Fundamental Perusahaan: Laporan keuangan yang dikeluarkan setiap kuartal adalah sumber informasi utama. Investor melihat balance sheet, income statement, dan cash flow statement untuk memahami bagaimana perusahaan menghasilkan uang. Perusahaan dengan pertumbuhan revenue konsisten, profit margin yang stabil, dan cash flow positif cenderung memiliki pergerakan harga saham yang lebih terprediksi dan naik dalam jangka panjang.
Rasio-Rasio Keuangan: Beberapa rasio yang penting termasuk Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Price-to-Earnings (PER), dan Debt-to-Equity (DER). Penelitian menunjukkan bahwa ROE dan ROA berpengaruh positif signifikan terhadap harga saham semakin tinggi kedua rasio ini, semakin baik kinerja keuangan perusahaan.
Proyeksi Kinerja Masa Depan: Pasar saham tidak hanya memperhatikan performa saat ini, tetapi juga ekspektasi masa depan. Jika analyst memprediksi pertumbuhan laba 20% tahun depan, investor akan mau membayar harga lebih tinggi hari ini untuk menginvestasikan uang mereka.
Dividend dan Kebijakan Korporasi: Announcement tentang dividen yang lebih tinggi, stock split, akuisisi, atau merger semua bisa menggerakkan harga saham dengan cepat. Investor cenderung menginterpretasi keputusan ini sebagai sinyal tentang prospek perusahaan di masa depan.
Yuk simak bagaimana faktor eksternal juga memainkan peran yang sama pentingnya.
Faktor Eksternal: Faktor Ekonomi Makro
Meski fundamental perusahaan kuat, faktor eksternal bisa membuat harga saham turun drastis. Penelitian menunjukkan bahwa faktor makroekonomi seperti inflasi, nilai tukar rupiah, pertumbuhan ekonomi, dan suku bunga secara simultan berpengaruh signifikan terhadap IHSG.
Suku Bunga dan Kebijakan Moneter: Ketika Bank Indonesia menaikkan BI Rate, biaya pinjaman untuk perusahaan meningkat, mengurangi profitabilitas. Investor juga lebih suka menyimpan uang di deposito yang memberikan return lebih tinggi daripada berinvestasi di saham. Sebaliknya, suku bunga rendah membuat saham lebih menarik.
Contoh nyata: Di November 2025, pasar Indonesia tengah mencermati arah kebijakan moneter dari Bank Indonesia di pertemuan mereka, karena ekspektasi ini langsung mempengaruhi sentiment investor.
Inflasi: Inflasi tinggi mengurangi daya beli konsumen dan meningkatkan biaya operasional perusahaan. Penelitian jangka pendek menunjukkan inflasi berpengaruh negatif terhadap harga saham, namun dalam jangka panjang hubungannya lebih kompleks tergantung jenis industri.
Pertumbuhan Ekonomi (GDP): Ketika ekonomi tumbuh, permintaan atas barang dan jasa meningkat, profit perusahaan naik, dan harga saham cenderung mengikuti. Sebaliknya, saat resesi atau pertumbuhan ekonomi melambat, investor khawatir dan mulai menjual.
Nilai Tukar Rupiah: Bagi perusahaan yang bergantung pada ekspor atau impor, perubahan nilai tukar berdampak signifikan. Rupiah yang lemah menguntungkan eksportir karena produk jadi lebih murah di pasar global. Namun, itu merugikan importir karena biaya impor meningkat.
Kebijakan Pemerintah dan Regulasi: Perubahan pajak, subsidi, larangan impor, atau kebijakan baru lainnya bisa menggerakkan harga saham sektor tertentu dengan drastis. Misalnya, kebijakan cukai rokok yang naik akan membuat saham produsen rokok turun.
Sentimen Pasar: Ketika Emosi Mengalahkan Logika
Fenomena yang semakin dominan di 2025 adalah dominasi sentimen atas fundamental. Data menunjukkan bahwa investor ritel terus bertambah jumlahnya, dan kelompok ini cenderung lebih reaktif terhadap berita jangka pendek daripada melakukan analisis fundamental mendalam.
Berita dan Isu Pasar: Informasi bersifat sementara seperti kabar geopolitik, wacana suku bunga, atau bahkan rumor di media sosial bisa menggerakkan harga saham lebih cepat daripada laporan keuangan resmi. Pergantian Menteri Keuangan Sri Mulyani di September 2025 adalah contoh sempurna meski fundamental perusahaan tidak berubah, IHSG langsung turun karena ketidakpastian.
Psikologi Investor dan Market Sentiment: Investor dipengaruhi oleh fear dan greed. Ketika semua orang bersemangat membeli (euphoria), harga bisa membubble jauh melampaui nilai fundamental. Sebaliknya, ketika semua panik menjual, harga bisa jatuh di bawah nilai sesungguhnya.
Volume Perdagangan: Lonjakan volume transaksi sering kali menandakan perubahan sentimen investor terhadap saham tertentu. Volume tinggi dengan harga naik mengindikasikan buying pressure kuat, sebaliknya volume tinggi dengan harga turun menunjukkan selling pressure.
Likuiditas Saham: Saham yang likuid (mudah diperdagangkan) dengan volume transaksi besar cenderung menarik investor lebih banyak. Sebaliknya, saham dengan likuiditas rendah sering dihindari, bahkan dengan fundamental baik sekalipun.
Faktor Struktur Pasar: Permintaan dan Penawaran
Harga saham pada dasarnya ditentukan oleh interaksi sederhana: permintaan dan penawaran. Jika banyak orang ingin membeli saham tertentu tapi sedikit yang mau menjual, harga naik. Sebaliknya, jika banyak yang mau jual tapi sedikit yang ingin beli, harga turun.
Aliran Modal Asing: Ketika investor asing membeli saham Indonesia, IHSG cenderung naik karena ada uang baru masuk. Dalam paruh pertama 2025, meski aliran modal asing awalnya mengalami eksodus Rp50,7 triliun di awal tahun, aktivitas investor asing menunjukkan pembalikan arah positif mulai Mei 2025.
Akumulasi dan Distribusi dari Institusi: Investor besar seperti fund manager atau investor institusional bisa mempengaruhi pergerakan pasar melalui buy atau sell activities mereka dalam jumlah besar.
Faktor Industri dan Sektor
Kondisi dalam industri tertentu mempengaruhi performa saham di sektor itu. Saham teknologi dipengaruhi oleh perkembangan teknologi terbaru dan ekspektasi pertumbuhan digital. Saham perbankan sangat sensitif terhadap suku bunga dan kebijakan moneter karena net interest margin mereka. Sektor energi dipengaruhi oleh harga minyak global.
Kombinasi Faktor: Bagaimana Semuanya Bekerja Bersama
Penelitian akademis menunjukkan bahwa tidak ada satu faktor tunggal yang menentukan harga saham. Kombinasi antara faktor internal (ROE, ROA, EPS), faktor eksternal (inflasi, suku bunga), dan sentimen pasar semuanya bekerja bersama.
Contoh praktis: IHSG yang mencapai rekor tertinggi 8.602 poin di 2025 adalah hasil kombinasi fundamental yang solid dari perusahaan-perusahaan Indonesia, ekspektasi suku bunga rendah dari The Fed, dan sentiment positif investor global terhadap pasar berkembang seperti Indonesia.
Ringkasan Poin Penting (5-7 Poin)
-
Faktor Internal meliputi fundamental perusahaan, rasio keuangan (ROE, ROA, PER, DER), proyeksi kinerja masa depan, dan kebijakan dividen. Perusahaan dengan fundamental kuat cenderung memiliki pergerakan harga lebih stabil dalam jangka panjang.
-
Faktor Eksternal Makroekonomi mencakup suku bunga, inflasi, pertumbuhan GDP, nilai tukar, dan kebijakan pemerintah. Penelitian menunjukkan keempat faktor ini secara simultan berpengaruh signifikan terhadap IHSG.
-
Sentimen Pasar semakin dominan di 2025, terutama dengan meningkatnya jumlah investor ritel. Berita, rumor, dan psikologi pasar bisa menggerakkan harga lebih cepat daripada perubahan fundamental.
-
Permintaan dan Penawaran adalah determinan fundamental harga saham. Aliran modal asing, likuiditas, dan aksi dari investor institusional membentuk supply dan demand di pasar.
-
Faktor Industri dan Sektor mempengaruhi saham spesifik. Perusahaan teknologi, perbankan, energi, dan konsumsi masing-masing dipengaruhi oleh dinamika industri yang berbeda.
-
Kombinasi Faktor Lebih Akurat daripada menganalisis satu faktor saja. Penelitian menunjukkan model yang menggabungkan faktor internal, eksternal, dan sentimen memberikan prediksi yang lebih akurat.
-
Data 2025 Menunjukkan bahwa pasar Indonesia menunjukkan resiliensi dengan IHSG naik 19,47% pada paruh pertama tahun, didukung kombinasi fundamental kuat, kebijakan moneter yang supportive, dan aliran modal positif.
Pertanyaan Umum Seputar Faktor Mempengaruhi Harga Saham
Q1: Faktor mana yang lebih penting fundamental atau sentimen?
A: Dalam jangka pendek, sentimen lebih dominan. Namun dalam jangka panjang (2-5 tahun), fundamental akan menentukan. Investor cerdas menggunakan sentimen jangka pendek untuk entry points yang lebih baik, sambil berpegang pada fundamental untuk keyakinan jangka panjang.
Q2: Apakah suku bunga selalu membuat harga saham turun?
A: Tidak selalu. Kenaikan suku bunga dari level sangat rendah menunjukkan ekonomi yang kuat dan investor mau membayar lebih untuk saham growth. Namun, kenaikan drastis dari suku bunga normal ke tinggi membuat biaya pinjaman mahal dan menekan profit, sehingga saham cenderung turun.
Q3: Berapa lama dampak berita besar terhadap harga saham?
A: Reaksi pasar terhadap berita besar biasanya terjadi dalam hitungan jam atau hari. Namun, penyesuaian valuasi yang sebenarnya bisa berlangsung berminggu-minggu. Contohnya, respon terhadap pergantian Menteri Keuangan pada September 2025 menunjukkan penyesuaian dalam beberapa hari ke minggu.
Q4: Haruskah saya menghindari saham jika suku bunga sedang naik?
A: Tidak perlu menghindari sepenuhnya. Pilih saham dengan fundamental sangat kuat dan dividen tinggi, karena saham defensif ini lebih tahan terhadap kenaikan suku bunga.
Q5: Apakah inflation selalu buruk untuk saham?
A: Inflasi moderat (2-3%) biasanya diterima pasar. Namun, inflasi tinggi (di atas 5-6%) mengurangi daya beli dan profit margin, sehingga negatif untuk saham. Tipe saham yang berbeda bereaksi berbeda terhadap inflasi.
Kesimpulan: Menjadi Detective Pergerakan Harga Saham
Pergerakan harga saham bukanlah kebetulan atau murni spekulasi. Ada pola sistematis di balik setiap gerakan kombinasi dari faktor internal yang solid, kondisi makroekonomi yang stabil atau bergejolak, dan sentimen pasar yang terus berubah. Investor yang bijak tidak hanya membeli saham bagus, tetapi memahami mengapa harga bergerak dan kapan sentimen jangka pendek menciptakan peluang untuk entry yang lebih baik.
Jangan biarkan pergerakan harga sesaat menakut-nakuti kamu. Telusuri faktor-faktor di baliknya. Tanyakan pada diri sendiri: apakah ini perubahan fundamental yang sesungguhnya, atau hanya sentimen jangka pendek? Dengan pemahaman ini, kamu bisa membuat keputusan investasi yang lebih cerdas dan percaya diri.
Mulai detektif dari sekarang. Sebelum membeli saham apapun, tanya lima hal: Bagaimana fundamental perusahaan? Apakah suku bunga sedang naik atau turun? Berapa sentiment pasar saat ini? Apakah volume transaksi normal atau tinggi? Apakah ini momentum beli atau jebakan buyer?
Pertanyaan untuk kamu: Sudah pernah kamu alami situasi di mana saham bagus tiba-tiba turun karena faktor eksternal? Bagaimana kamu meresponsnya—panic sell atau tetap hold? Bagikan pengalaman dan pelajaran kamu di kolom komentar, mari kita belajar bersama dari kisah nyata di pasar saham.
Jika artikel ini membantu kamu memahami faktor-faktor pergerakan harga saham, bagikan ke teman-teman investasi kamu agar mereka juga bisa menjadi investor yang lebih informed dan strategis!